Arsip untuk Agustus 11, 2008

Wuuih Ada Baterai dari Buah Salak

“Awalnya saya cuma memikirkan gimana anak-anak bisa terlibat total dalam pembelajaran. Aki itu kan cairan elektrolit, cairannya asam. Salak di daerah kami itu ada yang sangat asam, jadi siapa tahu bisa dipakai,” ujar Sutikno seusai mempresentasikan hasil penelitiannya di depan dewan juri Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) 2008 yang diadakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Depok, Senin (7/7).

Dari prinsip itulah Sutikno dan para siswanya mencoba dalam praktikum fisika. Apalagi Wanadadi adalah daerah penghasil salak yang cukup besar. Tiap bulan, menurut Sutikno, pasti ada panen salak. “Orang-orang di sana, termasuk anak didik saya, rata-rata memang hidup dari salak,” katanya. Bahan-bahannya adalah buah salak, air, seng sebagai kutub negatif, dan tembaga sebagai kutub positif.

Awalnya, buah salak diblender dengan air dengan perbandingan 200 gram:200 ml, lalu dituang ke dalam setengah gelas air mineral. Seng dan tembaga berukuran masing-masing 5 cm yang telah dikaitkan dengan kabel penghantar kemudian dimasukkan ke gelas. Ketika diukur dengan multimeter digital, multimeter menunjukkan tegangan yang dihasilkan 0,56 volt, bahkan ketika dicoba kembali oleh Sutikno, sempat mencapai angka 0,6 volt. Sutikno mengatakan, tegangan listrik yang dihasilkan oleh jus salak ini dapat menghidupkan kalkulator bertegangan 3 volt atau jam digital 1,5 volt. Tentu saja Sutikno menjelaskan, dia harus membuat jus salak lebih banyak lagi hingga tiga gelas untuk 1,5 volt dan enam gelas untuk 3 volt. “Gelas-gelas berisikan jus salak tersebut diserikan hingga tegangannya akumulatif,” ujar pria berusia 32 tahun ini.

Inovasi ini ditemukan Sutikno berdasarkan tuntutan kurikulum yang harus memberikan stimulan dan pengalaman nyata bagi siswa dalam proses pembelajaran untuk mandiri dan kreatif. “Paling tidak anak-anak punya pengalaman belajar dan kompetensinya tercapai. Fokus kami juga, alam sekitar dapat menjadi tempat belajar dan anak-anak menjadi lebih akrab dengannya,” ujar Soetikno yang baru pertama kali mengikuti lomba ini karena diajak Djoko Harwanto, rekan gurunya dari sekolah yang sama.

Djoko sendiri sudah malang melintang dalam lomba-lomba karya ilmiah. Dalam presentasinya, dewan juri memuji temuan Sutikno dan memberikan masukan agar Sutikno mempertajam penelitiannya seperti dengan mengukur tingkat keasaman dan elektronnya untuk mencari tahu faktor apa yang paling berpengaruh.

“Ya kami belum sanggup untuk itu, alat-alatnya saja enggak lengkap,” ujar Sutikno. Untuk itu dirinya berharap ada pihak-pihak yang mau memberikan perhatian terhadap infrastruktur yang memadai di sekolahnya untuk melanjutkan penelitian baterai salak tersebut.

Komentar bertahan »

Helikopter terkecil

Seorang inventor asal Jepang akan mendemonstrasikan helikopter terkecil di dunia di kota kelahiran Leonardo da Vinci. Pertunjukan tersebut merupakan bentuk penghargaannya kepada ide jenius tokoh zaman Renaiisance tersebut.

Gennai Tanagasiwa (75) akan menerbangkan sendiri helikopter buatannya selama 10 menit di Vinci pada 25 Mei 2008. Helikopter yang diberi nama GEN H-4 tersebut didesain untuk terbang solo dengan sebuah tempat duduk, rotor, pijakan kaki, dan pengendali arah. Empat mesinnya sanggup menerbangkan helikopter tersebut selama 30 menit dengan kecepatan sekitar 90 kilometer perjam.

GEN H-4 bukanlah barang baru dan diciptakan Yanagasiwa sejak tahun 1990-an. Dengan berat 82,5 kilogram dan panjang rotor 3,9 meter, helikopter tersebut masih tercatat sebagai helikopter terkecil dan teringan di dunia dalam Buku Rekor Guiness.

“Konsep helikopter saya berasal dari Italia dan saya selalu ingin menerbangkannya di kota kelahiran da Vinci,” ujar Yanagasiwa, yang membangun bengkelnya di Matsumoto, Jepang. Ide da Vinci yang dimaksudnya adalah ‘aerial screw’ yang dibuat tahun 1480-an. Menurut Museum Nasional Sains dan Teknologi Italia, desain Leonardo da Vinci merupakan konsep kendaraan terbang pertama di dunia.

Meskipun mampu terbang hingga ketinggian 165 meter, Yanagasiwa hanya akan melayang di ketinggian 5 meter agar dapat dilihat dengan jelas oleh pengunjung di sekitarnya. Demonstrasi akan dilakukan dua kali masing-masing 10 menit.

“Saya berharap suatu saat ini dapat digunakan layaknya skuter,” ujar Yanagasiwa. Sejak diperkenalkan, helikopter tersebut telah terjual lima unit di Jepang dan dua unit di AS masing-masing seharga sekitar 57.140 dollar AS atau sekira Rp540 jutaan.

Komentar bertahan »

Ada Emas di Dalam Kartu Sim dan Ponsel

Kamu pengguna ponsel yang suka gonta-ganti kartu SIM untuk mencari yang murah lalu begitu pulsa habis membuang kartu tersebut? Coba pikir-pikir lagi. Di dalam kartu itu ternyata ada emasnya!

Percaya tidak, sebuah perusahaan di Singapura dan Jepang sudah mulai menjadi anggota Lasykar Mandiri (julukan keren untuk pemulung), khusus ponsel tua dan kartu SIM yang dibuang orang. Proses para pemulung ponsel dan kartu SIM bekas ini sama saja dengan juragan pemulung biasa: menyerahkan hasil kumpulannya ke pengolah atau mengolahnya sendiri untuk memisahkan komponen-komponen yang ada dalam kartu SIM atau ponsel. Dari jutaan kartu dan ribuan ponsel yang dikumpulkan, mereka bisa mendulang kiloan emas murni dan puluhan bahkan ratusan kilo tembaga, perak, timah dan beberapa macam lagi.

Dari mana emas atau logam-logam itu datang? Dalam sirkit di ponsel atau chip di kartu SIM (GSM) atau RUIM (CDMA), memang ada emasnya. Emas digunakan karena terbukti mampu menyalurkan arus elektronik lebih baik dibandingkan tembaga. Produsen ponsel atau kartu SIM/RUIM tidak pernah mengurangi atau meniadakan kandungan logam mulia itu, walaupun dalam setiap unit jumlahnya mungkin cuma seperseribu gram.

Nah, jika berhasil mengumpulkan satu juta kartu SIM bekas, kita bisa berharap mendapatkan 1.000 gram atau satu kilogram emas murni. Dan jika kita bisa mengurai ponsel bekas, akan lebih banyak lagi emas, perak dan tembaga yang bisa kita peroleh.

Kalau mengikuti harga emas dunia yang Rp 300.000 per gram, setiap bulan dari kartu SIM dan RUIM bekas saja bisa didulang harta sedikitnya Rp 7,5 miliar. Padahal modalnya hanya 25 juta kali Rp 100, alias Rp 2,5 miliar.

Namun di negeri kita, tak banyak ponsel yang dibuang. Pertumbuhan pelanggan seluler atau nirkabel masih tetap sebanding dengan jumlah masuknya ponsel baru. Pasar ponsel bekas pun lebih ramai dibanding pasar ponsel baru, karena banyak anggota masyarakat dari lapisan tertentu cenderung gonti-ganti ponsel, menukar-tambah ponsel yang baru 3 bulan dimilikinya dengan yang lebih baru.

Komentar bertahan »